Senin, 26 Oktober 2015

KAKEK

Urusan kantor hari itu tak bisa di hindari,,ada banyak pekerjaan di akhir bulan yang harus di selesaikan, pembayaran ini  lah, itu lah, semuanya mendekati batas akhir,, udara panas yang entah mencapai berapa derajat celcius benar-benar menyengat, tapi mau ndak mau aku harus keluar kantor untuk ke bank.

No antrian 145 dengan 25 antrian lagi,, MasyaAllah lumayan lama kalo harus menunggu 25 orang lagi,, sedangkan aku masih ada urusan lain yang harus aku kerjakan,, Sebagian Teller ada yang masih istrahat,, sengaja ke Bank pusat dengan harapan urusan pembayaran ini itu segera selesai,, tempat duduk pun penuh, beberapa kursi ada yang kosong tapi tempatnya di tengah-tengah nasabah, dengan malu-malu aku membungkukkan badan melewati para nasabah dan duduk di antara orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal,,

Oke,, aku Duduk sambil mengamati segala sesuatu yang ada di dalam ruang ini,, terasa sejuk sekali, dan aku menikmati ini. Terdiam menunggu 25 antrian aku harus melakukan sesuatu agar tidak bosan,, ku amati setiap nasabah di sini, hampir semuanya bermain gadget,, semua sibuk dengan smartphone nya,, aku pun langsung demikian ku ambil smartphoneku,, kupandangi smartphoneku aku harus ngapain dengan smartphone ini,  aku cek tidak ada messege masukk,, bermain game pun tidak hoby,, buka facebook?? Aduuhhh paling hanya aku scroll ke bawah kemudian log out,,, atau update status biar ada temen ngobrol?…..gak gak,,itu tidak akan aku lakukan,, (Tidak penting pikirku)

Aku hidup di zaman yang katanya adalah Generasi “N” alias generasi nunduk,, (suka bermain gadget tidak peduli kanan dan kiri) kecanggihan gadget membuat saya dan semua orang saling acuh, tidak ingin peduli kepada yang dekat, biarlah itu menjadi urusan mereka sendiri. Dengan asyiknya bermain Handphone tak kusadari ternyata di sebelahku sudah tergantikan kakek tua, Jarak kita agak sedikit jauh di antara satu kursi,, penampilan rapi dan juga bersih, si Kakek menoleh ke arahku sekilas,, tidak ada senyuman, q kembali menyibukkan diri dg HP ku,, Kakek itu menoleh ke arahku lagi, dengan cepat ku hentikan jemariku di layar ponsel, jaga-jaga jika Kakek itu mau bertanya sesuatu, aku dengan cepat bisa meresponnya. Tapi rupanya kakek itu Cuma lihatin aku terus,,,
Kakek itu menoleh lagi,, aku pun menoleh,, senyumnya mengembang ramah, dan aku berhasil membalasnya.

Mbak, Nomer antrian berapa?”  Tanya kakek itu dengan ramah dan suara khas seorang kakek tua,
“145 pak,, 12 orang lagi,, Bapak nomer antrian brapa??”

Kartunya di bawa Anak ku, itu duduk di depan,,
Bapak itu memanggil anaknya,, ingin tahu dapat nomer berapa,, kakek itu mendapat nomer antrian ke-155.. selisih 10 antrian dengan aku,,

“Bapak mau nabung,? sambungku

“enggak mbak,, mau ambil pensiunan,,”

Pensiunan apa pak??      

PNS mbak,, Guru Bahasa Inggris,,

“ooooooo,,,” q membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

Usiaku ini 78 tahun mbak, aku pensiun sudah sekitar 15 tahun yang lalu,, Alhamdulillah menikmati masa tua dengan keadaan yang sehat,, jarang sakit yang macam2, kalo sakit sakitnya biasah aja kayak flu, demam gitu mbak,,

Bapak ini secara tiba2 mengajakku ngobrol,,  dan aku menikmatinya sedikit menggeser posisi duduk biar tidak terlalu jauh. Saya bisa menyebutnya bapak ini generasi tanpa gadget,, mungkin sudah menjadi kebiasaan untuk menyapa siapapun yang di dekatnya dan tidak sungkan berbagi cerita,,,

Wahh Alhamdulillah ya pak sehat terus,, Panjang Umur,, Jawabku
iya mbak,, kalo isteri sudah mendahului saya,, tapi dulu orang tua saya, Ayah, Ibu panjang umur juga sampai usia 100,,

dan aku tetap dengan mimik muka “sedang memperhatikan” dengan apa yang bapak itu ceritakan
Mbak tau gak di Jawa Barat ada Nenek yang usianya sangat tua sekali,,

q menggeleng2 penasaran,,, (mengguman, Bapak ini sudah usia senja tapi tidak ketinggalan berita, mungkin ini ciri orang jaman dulu,, memperluas pengetahuan dengan segala bentuk, bermacam ruang,  juga informasi apapun,, )

bapak itu mengingat-ngingat nenek yang mau diceritakan “ eeeeeeee nenek Anami namanya mbk, usianya sudah mencapai 134 tahun,,” dan q masih mengeleng-nggeleng “enggak tau Pak,, hehe”(tersenyum malu). parah sekali ada fasilitas internet tapi kalah update dengan Bapak ini,,

“haaaa tak kasih tau mbak, waktu di tanya wartawan resepnya apa??? itu Resep nya katanya gak pernah makan yang aneh2,, suka makan sayur-sayuran katanya”.
ooooo,, gitu ya pak,,

iyaaa mbakkk”...

kalo bapak resep nya apa??

“gampang mbak,, kalo saya selalu membiasakan diri untuk berfikir positif dan selalu murah senyum,,
eksepresiku terbelalak, aku kira sama persis dengan nenek yang disebutkan tadi,, mungkin makanan atau olah raga,, ternyata lain....

‘iyaa mbak,,, dengan berpikir positif kita gak gampang sakit mbak,, hati kalo uda sakit, mau makan gak enak, tidur  gak tenang, akhirnya kita terserang penyakit,, jadilah penyakit yang aneh2,,”

“hehehe,, iya pak ya”

“iiiiyaaaa... hahah” tertawa khas seorang kakek tua...

Banyak nomer antrian yang di panggil, tapi nasabahnya sudah tidak ada, mungkin tidak sabar menunggu.

“NOMER ANTRIAN 145 SILAHKAN KE TELLER 4 TERIMAKASIH”

pak, ini saya di panggil,,”

“ohh iya mbak silahkan” tersenyum lebar dengan gigi yang sudah banyak berkurang

“duluan ya pak” (dan sebenarnya masih ada keinginan untuk mendengarkan cerita bapak ini).

Akhirnya urusanku selesai, dan aku lihat kakek itu sudah bersama anak dan cucunya duduk bersebelahan,,,



Gak tau deh,,, Bapak itu tiba-tiba seperti mood booster buat aku,,, :) 


“POKOKNYA THANK YOU BAPAK, SEMOGA BAPAK SEHAT TERUS”....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar